Bedah Buku dan Literasi Informasi UPA Perpustakaan UMRAH Bahas Dilema Asmara dan Profesionalisme dalam Novel Sandyakala

Tanjungpinang, 10 Agustus 2026 — UPA Perpustakaan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) kembali menghadirkan kegiatan literasi melalui Bedah Buku dan Literasi Informasi yang mengangkat tema “Logika dan Rasa di Balik Senja: Mengupas Dilema Asmara dan Profesionalisme dalam Novel Sandyakala (Gurat Merah di Langit Senja)”.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin, 10 Agustus 2026, pukul 09.00–12.00 WIB ini berlangsung di lingkungan Universitas Maritim Raja Ali Haji. Kegiatan menghadirkan Ira Meifidriyanti, S.Pd., selaku penulis novel Sandyakala (Gurat Merah di Langit Senja), sebagai narasumber, dan dipandu oleh Anggun Aprilia Savitri sebagai moderator.

Dibuka Kepala UPA Perpustakaan UMRAH

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala UPA Perpustakaan UMRAH, Dhani Akbar, S.S., M.A. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh peserta untuk mengikuti kegiatan dengan khidmat dan memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai ruang untuk menggali serta menyerap ilmu sebanyak mungkin.

Dhani Akbar menekankan pentingnya keseriusan peserta dalam mengikuti setiap rangkaian kegiatan, terutama karena kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan penulis merupakan momentum yang dapat memberikan pengalaman dan wawasan baru bagi peserta.

Ia juga berharap kegiatan tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi benar-benar dapat memberikan manfaat bagi peserta, khususnya dalam memperluas wawasan literasi, memperkaya perspektif dalam membaca karya sastra, serta mendorong budaya belajar dan berdiskusi di lingkungan perguruan tinggi.

Menghadirkan Penulis untuk Menghidupkan Ruang Diskusi

Kegiatan bedah buku menjadi salah satu bentuk pengembangan fungsi perpustakaan sebagai ruang bertukar gagasan dan mempertemukan pembaca dengan penulis. Kehadiran Ira Meifidriyanti, S.Pd. memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenal lebih dekat karya Sandyakala (Gurat Merah di Langit Senja), baik dari sisi cerita maupun gagasan yang melatarbelakanginya.

Novel tersebut menjadi objek utama diskusi dengan pendekatan yang memadukan aspek logika dan rasa, khususnya dalam melihat persoalan asmara serta profesionalisme yang dihadirkan melalui cerita.

Melalui sesi bedah buku, peserta tidak hanya ditempatkan sebagai pembaca, tetapi juga diajak melihat sebuah karya sastra secara lebih kritis. Diskusi membuka ruang untuk membicarakan bagaimana sebuah cerita dibangun, bagaimana karakter dan konflik dikembangkan, serta bagaimana persoalan yang terdapat dalam karya dapat dikaitkan dengan kehidupan dan pengalaman pembaca.

Sastra sebagai Ruang Refleksi

Pemilihan tema “Logika dan Rasa di Balik Senja” memberikan penekanan pada dua sisi yang kerap hadir bersamaan dalam kehidupan manusia. Persoalan asmara tidak semata-mata dipandang melalui sisi emosional, tetapi juga dapat dibaca melalui pertimbangan rasional. Demikian pula profesionalisme dapat bersinggungan dengan nilai, pilihan, tanggung jawab, dan persoalan personal.

Dalam konteks tersebut, kegiatan bedah buku menjadi ruang untuk mengeksplorasi berbagai perspektif yang muncul dari sebuah karya sastra. Peserta dapat menyampaikan pertanyaan, pandangan, maupun tanggapan terhadap isi novel, sementara penulis memperoleh ruang untuk menjelaskan gagasan dan proses kreatif di balik karyanya.

Format diskusi semacam ini juga memperkuat hubungan antara perpustakaan dan aktivitas literasi yang berkembang di lingkungan akademik.

Memperkuat Literasi Informasi

Selain membahas karya sastra, kegiatan juga membawa aspek literasi informasi. Perpustakaan tidak hanya berperan dalam menyediakan sumber informasi, tetapi juga memiliki fungsi penting dalam membangun kemampuan pemustaka untuk memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara bijak.

Kegiatan bedah buku menjadi salah satu bentuk aktivitas yang dapat mendorong peserta untuk membaca secara aktif dan kritis. Peserta tidak berhenti pada pemahaman terhadap alur cerita, tetapi juga diajak mengidentifikasi gagasan, melihat konteks, serta membangun interpretasi berdasarkan informasi yang diperoleh dari bacaan.

Dengan demikian, membaca diposisikan sebagai aktivitas yang melibatkan proses berpikir, berdiskusi, dan merefleksikan informasi.

Membangun Budaya Literasi di Lingkungan Kampus

Penyelenggaraan Bedah Buku dan Literasi Informasi merupakan bagian dari upaya UPA Perpustakaan UMRAH dalam menghadirkan program yang mendekatkan perpustakaan dengan sivitas akademika. Kegiatan semacam ini memberikan alternatif ruang belajar yang berlangsung melalui dialog dan interaksi langsung.

Kehadiran penulis juga memberikan nilai tambah karena peserta dapat berinteraksi secara langsung dengan sosok di balik karya yang dibahas. Proses tersebut dapat menjadi pengalaman literasi yang berbeda dibandingkan aktivitas membaca secara mandiri.

Melalui kegiatan yang menggabungkan sastra, diskusi, dan literasi informasi, UPA Perpustakaan UMRAH terus mengembangkan perpustakaan sebagai ruang pengetahuan, ruang dialog, dan ruang apresiasi terhadap karya intelektual dan sastra.

Menumbuhkan Minat Baca melalui Diskusi

Kegiatan ditutup setelah rangkaian pemaparan dan diskusi bersama narasumber dan peserta. Peserta yang mengikuti kegiatan juga memperoleh seminar kit sebagai bagian dari dukungan penyelenggara terhadap pelaksanaan kegiatan.

Bedah buku Sandyakala (Gurat Merah di Langit Senja) menjadi salah satu upaya menghadirkan pengalaman membaca yang lebih interaktif. Ketika sebuah buku tidak hanya dibaca, tetapi juga didiskusikan dan dikaji dari berbagai sudut pandang, perpustakaan dapat menjadi ruang yang mempertemukan teks, penulis, dan pembaca dalam satu ekosistem literasi.

Melalui kegiatan ini, UPA Perpustakaan UMRAH kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan program literasi yang mendorong minat baca, kemampuan berpikir kritis, apresiasi terhadap karya sastra, serta budaya bertukar gagasan di lingkungan perguruan tinggi.

Artikel Lainnya